Agenda Keempat Kegiatan Komunitas Belajar

Materi Numerasi

Deskripsi Kegiatan

Kegiatan Komunitas Belajar (Kombel) ke-4 yang mengangkat tema “Numerasi” telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Mei 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh guru-guru anggota Kombel Gugus V Pelandakan.

Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman guru tentang konsep Numerasi dan membekali mereka dengan strategi serta contoh nyata dalam mengintegrasikan Numerasi ke dalam berbagai mata pelajaran di Sekolah Dasar. Numerasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan dan memahami konsep-konsep matematika (angka, data, dan pola) dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dan untuk tujuan pemecahan masalah yang praktis, melampaui sekadar menghitung.

Kegiatan ini dirancang untuk mengubah perspektif guru mengenai Numerasi, dari sekadar berhitung menjadi kemampuan bernalar dalam konteks.

Alur Pelaksanaan Kegiatan

Sesi dimulai dengan pemaparan singkat mengenai esensi Numerasi. Pemaparan ini menjelaskan:

Definisi Numerasi: Bukan hanya matematika, tetapi kemampuan menggunakan konsep bilangan, data, dan pola untuk memecahkan masalah nyata.

Pentingnya Numerasi: Mengapa numerasi menjadi kompetensi fundamental yang harus dikuasai siswa untuk kesiapan hidup.

Komponen Numerasi: Memahami aspek-aspek numerasi yang harus dikembangkan (misalnya, interpretasi data, penalaran, dan aplikasi).

Sesi dilanjutkan dengan sesi interaktif yang berisi pemberian contoh-contoh praktis desain pembelajaran yang mengintegrasikan Numerasi secara kontekstual di jenjang Sekolah Dasar. Contoh yang disajikan meliputi:

Numerasi Lintas Mapel: Contoh menganalisis data pertumbuhan tanaman (IPA) atau membaca dan menginterpretasikan grafik sederhana (IPS/Bahasa).

Aktivitas Sehari-hari: Contoh project di kelas yang melibatkan pengukuran, perhitungan biaya, dan penggunaan skala (misalnya, merencanakan kantin sehat atau membuat denah kelas).

Melalui kegiatan ini, guru diharapkan mampu melihat bahwa Numerasi dapat diajarkan melalui berbagai media dan konteks, tidak hanya terbatas pada buku pelajaran matematika, sehingga guru mampu merancang aktivitas kelas yang menumbuhkan nalar matematis siswa dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Agenda ketiga Kegiatan Komunitas Belajar

Materi Model Pembelajaran Deep Learning

Deskripsi Kegiatan

Kegiatan Komunitas Belajar (Kombel) Gugus V Pelandakan yang ke-3, bertajuk “Model Pembelajaran Deep Learning”, telah sukses diselenggarakan pada hari Sabtu, 26 April 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh guru-guru anggota Kombel Gugus V Pelandakan dan dinarasumberi oleh Bapak Fauzi Ridwan Sayyidi, S.Pd.SD.

Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman guru tentang penerapan model pembelajaran mendalam untuk mendorong berpikir tingkat tinggi (HOTS) serta mengintegrasikan literasi dan numerasi dalam desain pembelajaran. Target output dari workshop ini adalah Draf desain pembelajaran (RPP/Modul Ajar) berbasis Deep Learning yang siap diimplementasikan

Konsep Dasar Deep Learning Pedagogis

Dalam konteks pendidikan, Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) adalah pendekatan yang menekankan pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi secara mendalam dalam cakupan materi yang lebih sempit. Pendekatan ini adalah kontras dari Surface Learning (belajar di permukaan) yang hanya membahas banyak materi secara luas, yang justru mengorbankan proses pemahaman siswa dan membuatnya terpaksa menghafal. Deep Learning mendorong siswa untuk terlibat aktif, menyelami topik, dan menikmati proses pembelajaran. Tiga elemen utamanya adalah Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning.

Alur Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan ini dirancang untuk menjembatani konsep Deep Learning dari ranah filosofis ke dalam praktik pedagogis di Sekolah Dasar.

Sesi diawali dengan pemaparan singkat mengenai model pembelajaran Deep Learning (pedagogis, bukan AI/teknologi). Pemaparan menekankan perbedaan antara Surface Learning dan Deep Learning , serta pentingnya mengaktifkan HOTS (Higher-Order Thinking Skills) siswa, yang mencakup kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta dalam pembelajaran.

Sesi selanjutnya Narasumber memberikan contoh desain pembelajaran yang mengaplikasikan prinsip Deep Learning di kelas. Contoh berfokus pada:

Aktivitas Berbasis Masalah Nyata: Bagaimana pembelajaran mendalam dicapai melalui penugasan proyek atau masalah yang menantang.

Penguatan Literasi: Pemberian contoh penugasan yang membutuhkan analisis mendalam terhadap teks

Penguatan Numerasi: Pemberian contoh penugasan yang mewajibkan siswa menggunakan logika dan konsep matematika untuk memecahkan masalah kompleks non-rutin.

Kerja Kelompok dan Presentasi (Praktik Desain): Guru dibagi menjadi kelompok berdasarkan kelas (Kelompok Kelas I-II, III-IV, V-VI) untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari. Setiap kelompok bertugas membuat draf desain pembelajaran yang jelas mengimplementasikan model Deep Learning untuk mencapai HOTS, Literasi, dan Numerasi. Hasil desain kemudian dipresentasikan di depan kelas dan diikuti sesi umpan balik dari fasilitator dan kelompok lain untuk penyempurnaan desain yang siap diuji coba di sekolah.

Bank Soal Rujukan Kesambi


Di tengah dinamika pendidikan yang terus bergerak maju, Bank Soal tampil sebagai fondasi yang kokoh dalam merancang asesmen pembelajaran yang efektif dan terukur. Layaknya sebuah perpustakaan pengetahuan, Bank Soal menyimpan beragam instrumen evaluasi yang dirancang untuk mengukur pemahaman dan penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari. Keberadaannya bukan sekadar kumpulan soal semata, melainkan sebuah sumber daya yang kaya akan informasi mengenai indikator pencapaian kompetensi, tingkat kognitif, dan berbagai format pertanyaan. Guru sebagai nahkoda pembelajaran dapat memanfaatkan Bank Soal sebagai rujukan utama dalam menyusun instrumen asesmen yang valid dan reliabel. Dengan memanfaatkan variasi soal yang tersedia, guru dapat menggali pemahaman siswa secara komprehensif, mulai dari kemampuan mengingat hingga kemampuan menganalisis dan mengevaluasi. Lebih dari itu, Bank Soal juga memfasilitasi proses analisis hasil asesmen. Data yang terkumpul dari jawaban siswa dapat diolah untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam pemahaman mereka, baik secara individual maupun kelompok. Informasi berharga ini kemudian menjadi landasan untuk merancang intervensi pembelajaran yang tepat sasaran, sehingga setiap peserta didik dapat mencapai potensi terbaiknya. Dengan demikian, Bank Soal bukan hanya sekadar alat bantu, melainkan mitra strategis dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas dan berpusat pada siswa.

Agenda Pertama Kegiatan Komunitas Belajar

Materi Implementasi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Deskripsi Kegiatan

Kegiatan perdana Komunitas Belajar (Kombel) Gugus V Pelandakan dilaksanakan pada 15 Februari 2025 Kegiatan ini diawali dengan penyampaian materi bertajuk “Implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” oleh Kepala Sekolah SDN Majasem 2 Bapak Saefurrohman, M.Pd.. Materi ini dipilih sebagai fondasi awal karena berhubungan langsung dengan upaya penguatan karakter anak-anak Indonesia melalui pembiasaan rutin yang bertujuan membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045. Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat mencakup bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

Dalam sesi ini, para guru diajak untuk memahami secara komprehensif tujuh kebiasaan utama yang dapat membentuk karakter anak Indonesia yang unggul, yaitu: disiplin, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian sosial, semangat belajar, kejujuran, dan sikap hormat terhadap orang lain. Pemahaman terhadap kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi langkah strategis bagi para pendidik untuk mengintegrasikannya ke dalam proses pembelajaran, baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun pembiasaan harian.

Selain itu, melalui diskusi dan refleksi dalam sesi ini, para guru memperoleh kesempatan untuk saling bertukar praktik baik (best practices), merumuskan strategi penerapan di kelas, serta menyelaraskan langkah agar pembentukan karakter dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan di seluruh satuan pendidikan dalam gugus.

Kegiatan ini diharapkan menjadi awal yang kuat bagi perjalanan pembelajaran sepanjang tahun, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di antara guru-guru dalam upaya menghadirkan pendidikan yang bermakna, bermutu, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.

Diskusi Kelompok dan Penyusunan Program Pembiasaan
Alur Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan KKG ini dirancang dalam format workshop interaktif dengan tiga tahapan utama yaitu pemaparan dan pemahaman konsep, pembagian kelompok dan penyusunan program pembiasaan, serta presentasi hasil diskusi dan umpan balik.

Sesi Pertama adalah pemaparan dan pemahaman konsep berfokus pada penyamaan persepsi dan pendalaman materi mengenai Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Pemaparan materi inti dan diskusi berlangsung pada sesi ini. Nara sumber memaparkan secara detail tujuan, makna filosofis, dan panduan teknis implementasi Tujuh Kebiasaan, yaitu: Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Makan Sehat dan Bergizi, Gemar Belajar, Bermasyarakat, dan Tidur Cepat. Pada saat diskusi kasus, guru-guru berbagi pengalaman dan tantangan yang mungkin dihadapi dalam menerapkan kebiasaan-kebiasaan ini, baik di sekolah maupun kolaborasi dengan orang tua.

Selanjutnya sesi kedua yaitu Pembagian Kelompok dan Penyusunan Program Pembiasaan. Setelah pemahaman konsep, guru dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (misalnya berdasarkan kelas/jenjang) untuk bekerja praktis. Setiap kelompok ditugaskan untuk merancang satu set Program Pembiasaan Harian, Mingguan, atau Bulanan yang relevan dengan jenjang kelas mereka, fokus pada pengintegrasian Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat ke dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler. Hasil kelompok berupa draf rencana aksi yang mencakup aktivitas konkret, penanggung jawab, waktu pelaksanaan, dan metode monitoring (misalnya: membuat “Jurnal Harian Kebiasaan Hebat” untuk siswa).

Presentasi Hasil Diskusi dan Umpan Balik

Sesi ketiga sebagai sesi terakhir berupa presentasi hasil diskusi dan umpan balik. Ini merupakan tahap validasi dan pengayaan program yang telah dibuat. Setiap kelompok mempresentasikan program pembiasaan yang telah mereka rancang. Guru-guru dan narasumber memberikan masukan, kritik konstruktif, dan saran perbaikan terhadap program yang dipresentasikan. Rencana Tindak Lanjutnya adalah membuat kesepakatan bersama untuk menguji coba (uji coba) program pembiasaan yang sudah disempurnakan di sekolah masing-masing dan menetapkan tanggal evaluasi berikutnya.

Profil Komunitas Belajar Gugus V Pelandakan

Logo Komunitas Belajar Gugus V Pelandakan
Deskripsi Singkat

Komunitas BelajarAntar Satuan Pendidikan (Kombel) Gugus V Kesambi adalah wadah profesional bagi guru-guru sekolah dasar di wilayah Gugus V dalam meningkatkan kompetensi, kolaborasi, dan kualitas pembelajaran. Kombel berperan sebagai ruang belajar bersama yang menyelenggarakan kegiatan pelatihan, pendampingan, penyusunan perangkat ajar, berbagi praktik baik, serta penguatan implementasi Kurikulum dengan pendekatan pembelajaran mendalam. 

Melalui kegiatan yang terencana dan berkelanjutan, Kombel Gugus V Kesambi berkomitmen membangun budaya kolaboratif antarsatuan pendidikan, meningkatkan profesionalisme guru, serta mendorong terwujudnya pembelajaran yang lebih bermutu, inovatif, dan berpihak pada murid. Kombel berfungsi sebagai mitra strategis sekolah dan dinas pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di wilayah Kesambi Kota Cirebon.

Gugus V Pelandakan beranggotakan 8 sekolah yang terdiri dari 5 sekolah dasar negeri dan 3 sekolah dasar swasta. Sekolah dasar negeri yaitu SDN Pelandakan 1, SDN Pelandakan 2, SDN Majasem 1, SDN Majasem 2, dan SDN Kayuwalang., sedangkan sekolah dasar swasta yaitu, SDIT As Sunnah, SDIT Al-Kautsar, dan SD Awliya Fahmina.

Tabel Jumlah Guru Anggota Kombel Gugus V Pelandakan

Jumlah guru anggota Kombel Gugus V Pelandakan saat ini berjumlah 121 orang, terdiri dari guru kelas sejumlah 88 orang, guru PAI 15 orang, guru PJOK 13 orang, serta guru Mulok sejumlah 5 orang. Sebagian besar guru berstatus PNS dan PPPK, hanya sedikit yang masih berstatus honorer.

Struktur Organisasi Kombel

Struktur organisasi ini menggambarkan susunan kepengurusan Komunitas Belajar Antar Satuan Pendidikan Gugus V Pelandakan. Struktur ini menjadi pedoman kerja bersama untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan profesionalisme guru, dan mengoptimalkan program peningkatan kualitas pendidikan di Gugus V Pelandakan. Melalui kolaborasi ketua, sekretaris, bendahara, para ketua bidang, koordinator kelas, dan koordinator mapel, kami berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, berkualitas, dan berdampak bagi peserta didik. Hal lain yang tidak kalah penting adalah komunikasi dengan Ketua Gugus dan jajarannya berupa koordinasi dan konsultasi untuk pengembangan kegiatan kombel yang lebih adaptif dan bermanfaat bagi sekolah-sekolah di Gugus V Pelandakan.

Struktur Organisasi Kombel Gugus V Pelandakan

Makna Logo

Logo Kelompok Belajar Antar Satuan Pendidikan Gugus 5 Pelandakan dirancang sebagai representasi visual dari semangat kolaborasi dan kebersamaan yang menjadi landasan komunitas ini. Tiga figur berwarna biru, hijau, dan oranye membentuk pola saling terhubung, menggambarkan guru-guru dari berbagai satuan pendidikan yang bekerja dalam harmoni.
Warna biru melambangkan kebijaksanaan dan profesionalitas; hijau menandakan pertumbuhan, pembaruan, dan inovasi; sedangkan oranye memancarkan energi, kreativitas, dan semangat untuk terus berkembang.

Titik-titik kecil di sekitar figur mengilustrasikan gagasan-gagasan baru yang selalu muncul dalam proses diskusi dan berbagi praktik baik. Di bagian bawah lingkaran, ikon berjabat tangan menjadi simbol utama keeratan hubungan serta komitmen untuk saling mendukung. Ini menegaskan bahwa komunitas belajar dibangun di atas kepercayaan, kerja sama, dan semangat gotong royong.

Lingkaran luar logo menandakan kesatuan dan kesinambungan, meneguhkan identitas resmi Kelompok Belajar Antar Satuan Pendidikan – Gugus 5 Kesambi sebagai wadah profesional yang kokoh dan berorientasi pada pengembangan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, logo ini mencerminkan filosofi bahwa kualitas pendidikan akan berkembang ketika guru bergerak bersama, menguatkan satu sama lain, dan menjadikan kolaborasi sebagai budaya. Logo ini bukan hanya simbol, tetapi cerminan dari perjalanan, nilai, dan komitmen komunitas belajar untuk terus berkarya dan memberi dampak positif.